Pemuda Silampari

Tantangan Pahlawan Zaman Sekarang





Majawati Oen



Indonesia sudah merdeka selama 70 tahun, ibarat orang sudah berusia sepuh, kaya pengalaman dan pensiun. Sudah mempunyai anak dan cucu sebagai penerus. Dalam usianya yang ke-70 tahun Indonesia masih harus selalu berjuang untuk bisa menyejahterakan rakyatnya. Meskipun sudah menjadi negara maju dan melakukan pembangunan di berbagai bidang, tetapi permasalahan bangsa ini masih banyak. Kesejahteraan rakyatnya masih belum merata, polah pejabatnya yang korup juga masih berderet, ketergantungan pada BBM juga membuat stabilitas perekonomian beberapa kali terguncang. Belum lagi tuntutan kenaikan gaji buruh.

Sejak merdeka sampai sekarang, ternyata persoalan bangsa tetap datang silih berganti hanya beda bentuknya. Dengan demikian, sebenarnya setiap generasi punya persoalan dan perjuangan sendiri untuk mengatasinya. Setelah merdeka, tidak berhenti! Akan selalu datang masalah-masalah baru yang harus dihadapi dan diselesaikan oleh bangsa Indonesia. Jika demikian, maka setiap generasi membutuhkan pahlawan di zamannya. Pahlawan yang kita kenal sebagai orang-orang yang berjasa memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan tercatat dalam sejarah adalah sekelompok orang yang menjadi pahlawan di zamannya. Para pahlawan yang dikenal dan dikenang secara meluas.

Sesungguhnya masih ada pahlawan-pahlawan lain yang sesudah kemerdekaan kurang mendapat julukan lagi. Sebutan pahlawan yang diangkat di zaman ini seperti pahlawan tanpa tanda jasa sebagai julukan untuk guru dan pahlawan devisa untuk TKI. Pahlawan yang lainnya masih banyak, hanya belum dijuluki. Menyambut Hari Pahlawan tahun 2015, saya tergugah untuk menuliskan tentang pahlawan zaman sekarang. Untuk menjadi pahlawan apakah harus mendapat pengakuan? Menurut saya tidak.

Di zaman yang makin terdesak oleh era globalisasi, ketika segala sesuatu bergerak dengan cepatnya, sebenarnya siapapun bisa menjadi pahlawan di posisinya masing-masing. Hal-hal kecil dan sederhana yang dilakukan sepenuh hati dan dengan niat baik, tekun dan berada pada garis kebenaran adalah bentuk kepahlawanan yang tidak terkuak, tetapi sangat dirasakan manfaatnya oleh orang-orang di sekitarnya.

Siapa saja yang bisa jadi pahlawan?

Seorang ibu yang mengurus rumah tangganya dengan baik, mengasuh anak-anaknya menjadi orang yang berguna dan sukses. Seorang ayah yang bertanggung jawab dan menyayangi keluarganya. Seorang pegawai yang bekerja tekun, jujur dan loyal. Seorang polisi yang menegakkan kebenaran. Seorang pebisnis yang fairplay. Seorang pemimpin yang bijaksana. Seorang pejabat yang mau melayani rakyat, yang tidak aji mumpung atas jabatannya. Seorang murid yang belajar dengan giat, seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, dan lain-lain. Siapapun bisa jadi pahlawan, tak harus menunggu menjadi sosok yang berpengaruh di masyarakat, tak harus menduduki jabatan penting dan terhormat?

Seperti kita tahu, apa saja sifat-sifat kepahlawanan itu? Rela berkorban, pantang menyerah, berani membela kebenaran, berjuang sampai titik darah penghabisan, ikhlas menolong siapa saja. Sejak kecil kita dikenalkan pada para pahlawan bangsa dengan teladan-teladannya, tetapi seringkali semua itu hanya sebagai ilmu yang terlewatkan setelah kita ulangan. Nilai-nilai luhur kepahlawanan justru mulai luntur karena kita merasa sudah merdeka dan kita disibukkan dengan upaya-upaya memenuhi kebutuhan hidup dan memperkaya diri.

Indonesia masih butuh pahlawan

Apa kita masih perang, sehingga butuh pahlawan? Ya. Perang di zaman ini memang beda bentuknya. Kita masih berperang melawan ketidakadilan, kurangnya pemerataan, perang melawan korupsi, perang melawan bobroknya birokrasi, perang melawan sistem pengelolaan keuangan negara yang masih sering bocor dan tidak hemat. Kita juga perang melawan rusaknya mental bangsa, melawan kemacetan, melawan sikap hedonisme. Kita juga berperang melawan usaha-usaha sebagian kelompok masyarakat yang ingin menggerogoti ideologi negara, Pancasila. Masih banyak persoalan bangsa yang harus kita perangi. Belum lagi perang melawan diri sendiri terhadap kemalasan, mau menang sendiri, ketidakpedulian dan lain-lain.

70 tahun setelah merdeka ternyata sikap-sikap kepahlawanan itu mulai luntur, semangat yang berkobar di dada pahlawan dengan perjuangan tanpa kenal lelah sampai kehilangan nyawa tak lagi merebak di dada orang Indonesia masa kini. Mereka masih berpedoman bahwa pahlawan adalah sosok yang memegang bambu runcing, memakai ikat kepala merah putih dan berperang dengan penjajah. Tak sadar bahwa dirinya sendiri saat ini juga menghadapi “penjajah” dalam bentuknya yang berbeda. Tidak ada bentuk fisik lawannya, tetapi tanpa disadari telah menggerogoti bangsa ini.

Penjajah yang paling sulit dilawan adalah ego diri. Kita tak lagi dijajah oleh bangsa lain. Kita dijajah oleh bangsa kita sendiri karena sulitnya mengatasi perbedaan pendapat. Bangsa Indonesia berhenti, jalan di tempat ketika elite politiknya saling ngotot dan tidak bisa mengatasi perbedaan yang terjadi. Bangsa Indonesia sudah terjajah oleh kebijakan yang salah selama bertahun-tahun dalam pengelolaan kekayaan negara. Kita ini katanya kaya akan sumber daya alam, tetapi kita juga sekaligus miskin karena terjerat oleh harga BBM. Kita juga terjajah oleh kesalahan sistem dalam pengambilan kebijakan yang selalu berganti-ganti karena pengelolanya ganti. Banyak biaya besar yang terbuang percuma dan rakyat tak bisa berbuat apa-apa. Dengan demikian perjuangan para pahlawan di negara ini masih harus diteruskan, dan masih dibutuhkan pahlawan-pahlawan untuk berperang melawan “penjajah baru”.

Tantangan pahlawan masa kini

Pahlawan masa kini tak perlu atribut, pahlawan masa kini cukup dimulai dengan niat dan tindakan. Siapa saja bisa menjadi pahlawan di posisinya masing-masing dengan meneladan sikap para pahlawan. Menjadi generasi yang tidak membebani negara karena bersikap yang kurang terpuji, menjadi generasi yang lebih suka mendahulukan kewajibannya daripada memperjuangkan tuntutannya. Menjadi generasi yang bisa memberi solusi dan bukan pintar mengkritisi saja. Perjuangan bangsa Indonesia masih banyak dan panjang, setiap generasi membutuhkan pahlawan. Bukankah untuk menjadi pahlawan, tak harus selalu dicatat sejarah. Hal yang terpenting adalah kiprah sang pahlawan mempunyai nilai manfaat nyata, meskipun itu bukan sesuatu yang besar hingga menggemparkan jagad atas upaya perjuangannya dan tidak membuatnya jadi orang terkenal.

Bersyukur, saat ini mulai muncul sosok-sosok yang berani beda dalam berkiprah. Mereka adalah pahlawan masa kini yang aksinya dapat menginspirasi banyak orang melalui tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat di sekelilingnya. Semoga makin bermunculan pahlawan masa kini yang dapat menumpas “penjajah baru” dan dapat membawa pencerahan kepada bangsa Indonesia.
 

Selamat Hari Pahlawan



SANGGAR BAHASA SEBAGAI ALAT REFERENSIF SEKOLAH DAN ORGANISASI



BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Sanggar bahasa merupakan kegiatan yang mengkaji, memproduksi, dan mengkreasikan bahasa Indonesia dalam berbagai ragam dan tujuan. Kegiatan tersebut berkaitan dengan bahasa Indonesia, seperti majalah sekolah, majalah dinding, penyuntingan bahasa, kepewaraan, dan pidato.

Secara garis besar, fungsi sanggar bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua fungsi: (1) sosial, (2) personal atau individual. Sanggar bahasa Indonesia berfungsi sosial: (a) menjadi alat pemersatu warga sekolah, (b) alat berkomunikasi, (c) alat edukatif. Dalam kaitannya dengan fungsi personal individual, sanggar bahasa dan sastra Indonesia berfungsi ekspresif, regulatori, referensial, heuristik, estetik, dan kreatif.

Untuk mengoptimalkan fungsi tersebut, maka diperlukan pembahasan mengenai hubungan antara sanggar bahasa Indonesia dengan analisis bahasa dan pengajaran bahasa sebagai pedoman dasar seorang guru dalam membimbing pelaksaan sanggar bahasa di sekolah. Melalui analis bahasa dan pengajaran bahasa, guru dapat membimbing siswa untuk berkarya dengan memperhatikan kaidah tata bahasa Indonesia dan ejaan yang baik dan benar. Oleh karena itu, kami menyusun makalah berjudul “Hubungan antara Sanggar Bahasa dengan Analisis Bahasa dan Pengajaran Bahasa” sebagai dasar dalam pelaksanaan sanggar bahasa.



B.     Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian sanggar bahasa?

2.      Apa pengertian referensi?

3.      Apa fungsi alat referensi warga sekolah?

4.      Apa fungsi alat referensi organisasi?



C.     Tujuan

1.      Mengetahuai apa pengertian sanggar bahasa.

2.      Mengetahuai apa pengertian referensi.

3.      Mengetahuai apa fungsi alat referensi warga sekolah.

4.      Mengetahuai apa fungsi alat referensi organisasi

 



BAB II

PEMBAHASAN



A.    Pengertian Sanggar Bahasa

Sanggar bahasa dan sastra Indonesia adalah kegiatan yang mempelajari, mengkaji, memproduksi, dan mengkreasikan bahasa dan sastra Indonesia dalam berbagai ragam dan tujuan. Kegiatan yang berkaitan dengan bahasa Indonesia misalnya majalah sekolah, majalah dinding, penyuntingan bahasa, kepewaraan, dan pidato. Kegiatan yang berkaitan dengan sastra Indonesia misalnya apresiasi puisi, apresiasi cerpen, drama radio, dan drama panggung.

B.     Pengartian Referensi

Kata referensi berasal dari inggris reference dan merupakan kata kerja to refer yang artinya menunjukan kepada. Buku referensi adalah buku yang dapat memberikan keterangan topik perkataan, tempat, peristiwa, data statistika, pedoman, alamat, nama orang, riwayat orang-orang terkenal. Pelayanan referensi adalah pelayanan dalam menggunakan buku-buku referensi.

Referensi adalah rujukan suatu untuk informasi yang dilakukan seseorang atau pustakawan untuk membantu seseorang mendapatkan informasi. 

C.     Fungsi Alat Referensi Warga Sekolah

Sanggar bahasa berfungsi :

1.       menjadi alat pemersatu warga sekolah.

2.       alat berkomunikasi.

3.       alat edukatif.

Selain itu, sanggar bahasa berfungsi juga sebagai alat referensi. Yaitu untuk mendapatkan rujukan suatu informasi yang dilakukan seseorang atau pustakawan untuk membantu seseorang mendapatkan informasi untuk warga sekolah. 

D.    Fungsi Alat Referensi Organisasi

Aktivitas Seorang organisasi sekolah (OSIS, PRAMUKA, DLL) yang Produktif dan Kreatif dalam Sanggar Bahasa, mengharuskan adanya aktivitas yang menghasilkan karya bahasa dan sastra Indonesia. Hasil ini harus bermanfaat baik bagi diri siswa, guru, kepala sekolah, pegawai sekolah, maupun masyarakat sekolah pada umumnya. Di dalam sanggar semua yang terlibat juga harus kreatif dan dapat menjadi alat referensi pembaca.

 
 

BAB III
PENUTUP





A.    Kesimpulan



1.     Sanggar bahasa merupakan salah satu tempat bagi siswa untuk mengkaji, memproduksi, dan mengkreasikan bahasa Indonesia dalam berbagai ragam dan tujuan. Kegiatan tersebut berupa penulisan majalah sekolah, majalah dinding, kepewaraan, dan pidato.

2.  Referensi adalah rujukan suatu untuk informasi yang dilakukan seseorang atau pustakawan untuk membantu seseorang mendapatkan informasi. 

3. Selain itu, sanggar bahasa berfungsi juga sebagai alat referensi. Yaitu untuk mendapatkan rujukan suatu informasi yang dilakukan seseorang atau pustakawan untuk membantu seseorang mendapatkan informasi untuk warga sekolah. 

4.   Aktivitas Seorang organisasi sekolah (OSIS, PRAMUKA, DLL) yang Produktif dan Kreatif dalam Sanggar Bahasa, mengharuskan adanya aktivitas yang menghasilkan karya bahasa dan sastra Indonesia. Hasil ini harus bermanfaat baik bagi diri siswa, guru, kepala sekolah, pegawai sekolah, maupun masyarakat sekolah pada umumnya. Di dalam sanggar semua yang terlibat juga harus kreatif dan dapat menjadi alat referensi pembaca.




Suara Ledakan dan Kilatan Api, Meteor Jatuh di Bengkulu?


Ilustrasi (istimewa)
Pemudasilampari.blogspot.com,- Lubuklinggau- Warga perbatasan Kabupaten Rejanglebong dan Kepahiang Provinsi Bengkulu, Senin, malam dikejutkan dengan suara dentuman keras yang diduga meteor jatuh.

Warga Desa Pelalo, Kecamatan Curup Timur, Kabupaten Rejanglebong, Gunardi, mengatakan sekitar pukul 19.00 WIB, ia dan sejumlah rekannya melihat kilatan cahaya di langit Rejanglebong yang disusul dengan bunyi ledakan besar dari dalam hutan.

Saksi mata lain, Rachmat Miko, warga Desa Penanjung Panjang Kabupaten Kepahiang, juga mengaku mendengar bunyi keras pada waktu yang sama. Bahkan dia sempat menduga ada sebuah pesawat yang jatuh di tengah hutan. 
"Setelah kilatan itu lalu ada bunyi dentuman atau mirip ledakan keras, tapi kami tidak tahu posisinya," katanya.

"Kami sempat menduga itu adalah sebuah pesawat yang terbakar lalu jatuh ke hutan, tetapi menurut warga di sini, benda itu diduga sebuah meteor," terang Rahmat.

Kepala BMKG Stasiun Goefisika Kepahiang Bengkulu, Litman mengatakan, pihaknya saat ini sedang menuju lokasi dan akan memastikan apakah benar benda langit yang jatuh itu sebuah meteor atau bukan.

"Alat kami tidak bisa mendeteksi secara tepat jenis benda yang jatuh itu, tetapi sekarang petugas kami sudah berangkat ke lokasi untuk memastikannya," jelas Litman.

PEDULI ASAP! HMJ BAHASA DAN SENI STKIP PGRI LUBUKLINGGAU


Salah satu Mahasiswa membagikan masker kepada pengguna jalan.
LUBUKLINGGAU (pemudasilampari.blogspot.com)- Organisasi HMJ BAHASA DAN SENI STKIP PGRI LUBUKLINGGAU mengadakan kegiatan pembagian masker. Pembagian masker dilaksanakan untuk mencegah meluasnya penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), Iritasi pada mata, PPOK dan lain-lain 

"Kami bukan peduli dengan banyaknya asap yang ada di Kota Lubuklinggau, tapi kami peduli dengan apa yang diakibatkan oleh kabut asap, seperti penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), Iritasi pada mata, PPOK dan lain-lain yang diakibatkan oleh kabut asap di kota kita" Ujar salah satu anggota HMJ Bahasa & Seni. Rabu (14/10).

Akibat bencana ini, secara umum aktivitas masyarakat di Kota Lubuklinggau sudah mulai terganggu, beraktivitas seperti sekolah SD, SMP, dan SMA sudah pernah diliburkan dan waktu pulang sekolah dipercepat.

HMJ Bahasa & Seni STKIP-PGRI foto Bersama Polisi Lalu Lintas.
Aksi Mahasiswa STKIP-PGRI turun ke jalan untuk membagikan masker ini sangat di sambut baik oleh masyarakat dan kepolisian Kota Lubuklinggau.




Doktrin Organisasi Mahasiswa (Mungkin Judul Belung Tepat)

ospek merupakan ladang subur bagi para aktifis organisasi mahasiswa baik mereka yang aktif dalam organisasi ekstra kampus dan intra kampus. Para aktifis ini biasanya memasukan nilai-nilai keorganisasianya pada para mahasiswa baru yang kemudian di arahkan untuk mengikuti jejak para seniornya terjun dalam keorganisasian.

sangat bagus ketika para mahasiswa baru dibimbing dan diarahkan untuk menjadi mahasiswa aktifis, bukan menjadi mahasiswa yang hedonis atau romantis, namun sekarang ini cukup sulit untuk di bedakan antara mahasiswa aktifis dan mahasiswa romantis karena dalam mahasiswa aktifis secara mayoritas prilaku romantis sangat dominan. terlihat dari para senior yang mendekati para mabanya untuk di jadikan pacar dan masuk dalam organisasinya.

terdengar dari beberapa obrolan senior-senior organisasi yang ada di kantin dan beberapa tempat nongkrong bahkan dalam bas camp mereka, obrolanya adalah mana mahasiswa baru yang cantik, bukan obrolan bagaimana mengarahkan maba dengan agenda-agenda agar mereka bisa berfikir kritis terhadap kondisi diri, lingkungan dan negaranya. sehingga di harapkan mereka akan mengetahui, bisa memilah dan memilih mana yang baik bagi kepentingan bersama.

disisi lain ajakan untuk mengikuti organisasinya dengan embel-embel “jika kalian ingin menjadi sukses dalam perkuliahan maka ikutilah organisasi ini, karena kita yang memiliki kampus ini dengan masa yang paling besar”. Para maba yang tidak mengetahui bagaiman kegiatan keorganisasian dalam dunia kampus yang dipenuhi dengan kepentingan para senior untuk medapatkan kedudukan diwilayah politis. pejabat kampus menduduki BEM dan seterusnya sampai pada tataran HMJ. Karena ketika mereka bisa menduduki jabatan tersebut maka dengan mudah untuk mendapatkan proyek dan proyek-proyek korupsi yang lainya.

doktrin-doktrin lain dari para senior organisasi yang berkuasa adalah kalian akan sulit dalam perkuliahan ketika tidak mengikuti organisasi ini. memang mereka yang memiliki kuantitas paling besar dalam kampus tapi apakah kuantitas mereka sebanding dengan kualitas mereka???.

realitas yang menjawab, kemarin dalam pemilihan BEM saja terdapat keributan yang hampir beberapa hari tidak selesai, pertarungan dua partai mahasiswa yang di motori dari dua organisasi ekstra kampus yang saling berebut jabatan yang tetapi masih diredakan.

kemudian dalam kenaikan spp dan biaya registrasi masuknya mahasiswa baru tidak ada organisasi mahasiswa yang menyikapi dan menentang kebijakan yang tidak memihak pada mahasiswa tersebut hanya terdapat satu organisasi itupun dari subnya bukan dari pusatnya. justru mereka malah sibuk dengan perebutan kekuasaan tersebut.

dari sinilah bagi para organisasi yang ingin menguasai kampus maka harus memiliki masa yang besar untuk kemengan dan untuk mendapatkan kemenagan maka segala cara dilakukan. Maka dengan itu para maba dimasukan dalam oraganisasi kemudian dibuatkan pelatihan dan setelah mereka resmi menjadi anggota maka akan menjadi alat yang paling tajam untuk menusuk mendapatkan kursi jabatan dalam kampus.

setelah pelatihan dan resi mendaptkan jabatan dalam kampus maka mereka yang menjadi anggota akan ditelantarkan tidak ada bimbingan hanya agenda-agenda formalitas saja.

Ini semua dari pengalaman saya, dan cerita ini belum selesai, masih banyak yang ingin saya ceritakan, nantinya...



24 Adab Terkabulnya Do’a Seseorang

 
Rasullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim itu berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi di dalamnya, melainkan Allah subhanahu wa ta’ala memberikannya salah satu dari tiga kemungkinan. Yaitu Dia segera mengabulkan doanya, atau Dia akan menyimpan baginya di akhirat kelak, atau Dia akan menghindarkan darinya keburukan dan yang semisalnya.” Maka para Sahabat berkata : “Jika demikian, kita akan memperbanyaknya (doa).” Kemudian  Rasullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah subhanahu wa ta’ala lebih banyak (memberikan pahala karenanya).
[HR. Ahmad (III/18), al-Bukhari dalam kitab : al-Adabul Mufrad No. 710, al-Hakim (I/493) dari Abu Sa’id al-Khudri dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Adabil Mufrad (No. 547)]

_____Like Pemuda Silampari yuk KLIK : Pemuda Silampari ________ 
Berikut ini adalah beberapa adab dan faktor penyebab dikabulkannya doa berdasarkan nukilan dari kitab “Kumpulan Do’a dari Al-Qur’an dan as Sunnah yang Shahih” karya al- Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullahu ta’ala :
  1. Ikhlas berdoa hanya karena Allah semata (Lihat Q.S Al-Mu’min ayat 14 dan Al Bayyinah ayat 5).
  2. Mengawali doa dengan pujian dan sanjungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian diikuti bacaan shalawat kepada Rasullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian akhiri doa dengan cara yang sama.
  3. Bersungguh-sungguh dalam berdoa, serta yakin bahwa setiap permohonan yang dipanjatkan pasti akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
  4. Mendesak dengan penuh tawadhu (kerendahan hati) saat berdoa, dan tidak terburu-buru dalam memohonkannya.
  5. Menghadirkan hati didalam setiap doa.
  6. Berdoa baik pada saat senang (keadaan lapang), maupun ketika dirundung kesedihan (musibah).
  7. Tidak boleh berdoa dan memohon sesuatu kecuali HANYA kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
  8. Tidak mendoakan suatu keburukan bagi keluarga, harta, anak dan diri sendiri.
  9. Merendahkan suara ketika berdoa, yaitu antara samar-samar dan keras (Lihat HR. Bukhari No. 6384 dan Muslim No. 2704).
  10. Mengakui dosa yang telah diperbuat kemudian memohon ampunan atasnya, serta mengakui segala nikmat yang telah kita terima, dan bersyukur atas nikmat tersebut.
  11. Tidak perlu membebani diri dengan membuat sajak dalam berdoa (Lihat doa-doa yang terdapat dalam Al-Quran dan as-Sunnah).
  12. Tadharru (merendahkan diri), khusyu, raghbah (berharap untuk dikabulkan), dan rahbah (rasa takut tidak dikabulkan) sebagaimana yang terdapat pada Q.S Al-Anbiyaa ayat 90.
  13. Mengembalikan hak orang lain yang pernah didzalimi disertai dengan taubat.
  14. Memanjatkan doa tiga kali.
  15. Menghadap kiblat.
  16. Berdoa dengan mengangkat kedua tangan.
  17. Jika memungkinkan hendaklah berwudhu sebelum berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala (Lihat Shahih al-Adzkar wa Dha’ifuhu halaman 960-962).
  18. Tidak berlebih-lebihan dalam berdoa (memohon sesuatu yang menyalahi kodrat sebagai seorang hamba).
  19. Bertawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan Asmaul Husna dan sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi.
  20. Setiap makanan dan minuman serta pakaian yang digunakan harus berasal dari harta yang halal.
  21. Tidak berdoa untuk segala macam kemaksiatan.
  22. Tidak berdoa untuk memutus silaturahmi.
  23. Harus disertai dengan menegakan amar ma’ruf nahi munkar, yaitu dengan cara menyuruh kepada suatu kebaikan serta mencegah dari suatu kemungkaran.
  24. Disunnahkan memulai doa dengan mendoakan diri sendiri, baru kemudian mendoakan orang lain (Lihat Syaruh Nawawi lish Shahih Muslim XV/144, Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan at-Tirmidzi IX/328 dan al Bukhari yang disertai kitab Fathul Bari I/28).
wallahu ‘alam bishawab.
DAKWAHIN YUK!
 
Like Pemuda Silampari yuk KLIK : Pemuda Silampari