Home
All Post
Makalah Belajar dan Pembelajaran
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Belajar merupakan
proses aktif yang dilakukan oleh peserta didik dalam rangka membangun
pengetahuannya. Belajar bukanlah proses pasif yang hanya menerima pengetahuan
dari guru atau sumber-sumber lain. Jika pembelajaran tidak memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk berperan aktif maka pembelajaran tersebut
bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif peserta didik dalam proses
pembelajaran sangat diperlukan karena ia merupakan subyek utama dalam proses
pembelajaran.
Pembelajaran
berhubungan dengan bagaimana membelajarkan peserta didik atau bagaimana membuat
peserta didik dapat belajar dengan mudah dan munculnya motivasi para peserta
didik untuk mempelajari pelajaran sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dalam pembelajaran,
bagi para praktisi pendidikan dituntut mengembangkan berbagai metode dan
strategi untuk mencapai tujuan pembelajaran, sehingga dapat tercapai secara
efektif, efisien dan menyenangkan.
- Rumusan Masalah
Didalam makalah ini, penulis merumuskan masalah
sebagai berikut :
1.
Apa
pengertian Belajar dan Pembelajaran?
2.
Apa
saja unsur-unsur belajar dan pembelajaran?
3.
Apa
saja tujuan belajar dan pembelajaran?
- Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di dalam makalah ini maka,
penulis makalah memiliki tujuan :
1. Untuk mengetahui apa pengertian Belajar
dan Pembelajaran.
2. Untuk mengetahui apa saja unsur-unsur
belajar dan pembelajaran.
3. Untuk mengetahui apa saja tujuan belajar
dan pembelajaran.
- Manfaat
Manfaat dari makalah ini, yaitu :
1. Mengetahui apa pengertian Belajar dan
Pembelajaran.
2. Mengetahui apa saja unsur-unsur belajar
dan pembelajaran.
3. Mengetahui apa saja tujuan belajar dan
pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
- Hakekat Belajar dan Pembelajaran
1. Pengertian Belajar
Menurut Abdillah (2002) bahwa belajar
adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah
laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek-aspek kognitif,
afektif, dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu.
Sedangkan Menurut WINKEL Belajar adalah suatu aktivitas mental
atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang
menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan
sikap-sikap.
Dengan demikian dapat disimpulkan Belajar
adalah perubahan tingkah laku pada individu-individu yang belajar. Perubahan
itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga
berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak,
penyesuaian diri. Jadi, dapat dikatakan bahwa belajar itu sebagai rangkaian
kegiatan jiwa raga yang menuju perkembangan pribadi manusia seutuhnya.
2. Pengertian Pembelajaran
Menurut Darsono (2002: 24-25) menjelaskan
pengertian pembelajaran sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh pendidik sedemikian rupa sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih
baik.
Sedangankan Arikunto (1993: 12)
mengemukakan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang mengandung terjadinya
proses penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap oleh subjek yang sedang
belajar. Lebih lanjut Arikunto mengemukakan bahwa pembelajaran adalah bantuan
pendidikan kepada anak didik agar mencapai kedewasaan di bidang pengetahuan,
keterampilan dan sikap.
Menurut kelompok kami pembelajaran adalah suatu proses kegiatan yang mengandung penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap
oleh subjek yang sedang belajar.
3. Pengertian Belajar dan Pembelajaran
Belajar dan Pembelajaran adalah Kegiatan
individu yang kompleks dimana semuanya memerlukan suatu proses dan menghasilkan
suatu perubahan perilaku dari penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga
berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak,
penyesuaian diri.
- Unsur Unsur Belajar dan Pembelajaran
1.
Unsur dinamis belajar dan pembelajaran
Berikut ini di
sajikan kemampuan Dasar Guru Khusus S1, Kependidikan :
a. Menguasai bahan
1). Menguasai bahan bidang studi dalam
kurikulum sekolah
2). Menguasai bahan pengayaan/ penunjang
bidang studi
b.Mengelola program belajar-mengajar
1).
Merumuskan
tujuan intruksional
2).
Mengenal
dan dapat menggunalkan prosedur instrusional yang tepat
3).
Melaksanakan
program belajar mengajar
4).
Mengenal
kemampuan peserta didik
5).
Merencanakan
dan melaksanakan pengajaran remedial
c. Mengelola kelas
1). Mengatur tata ruang kelas untuk pengajaran
2). Menciptakan iklim belajar mngajar yang
serasi
d.
Penggunaan
media/sumber
1).
Mengenal,
memilih dan menggunakan media
2).
Membuat
alat-alat bantu pelajaran sederhana
3).
Menggunakan
dan mengelola laboratorium dalam rangka proses belajar mengajar
4).
Menggunakan
perpustakaan dalam proses belajar mengajar
- Tujuan Belajar dan Pembelajaran
Tujuan belajar
menurut Sukandi (1983: 18) adalah untuk mengadakan perubahan tingkah laku dan
perbuatan. Perubahan itu dapat dinyatakan sebagai suatu kecakapan keterampilan,
kebiasaan, sikap, pengertian, sebagai pengetahuan atau penerimaan dan
penghargaan.
Sedangkan Surakhmat
(1986) mengatakan bahwa tujuan belajar adalah untuk mengumpulkan pengetahuan, penanaman konsep dan
pengetahuan, dan pembentukan sikap dan perbuatan.
Jadi tujuan belajar
menurut kelompok kami adalah untuk perubahan tingkah laku
dan perbuatan pada individu-individu yang belajar. Tujuan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi perubahan
tingkah laku dari individu setelah individu tersebut melaksanakan proses
belajar. Melalui belajar diharapkan dapat terjadi perubahan (peningkatan) bukan
hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek lainnya. Perubahan itu dapat dinyatakan
sebagai suatu kecakapan keterampilan, kebiasaan, sikap, pengertian, sebagai
pengetahuan atau penerimaan dan penghargaan.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Belajar adalah perubahan tingkah laku pada
individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan
penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan,
sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri. Jadi, dapat
dikatakan bahwa belajar itu sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga yang menuju
perkembangan pribadi manusia seutuhnya.
Pembelajaran adalah suatu proses
kegiatan yang mengandung
penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap oleh subjek yang sedang belajar.
Belajar dan Pembelajaran adalah Kegiatan
individu yang kompleks dimana semuanya memerlukan suatu proses dan menghasilkan
suatu perubahan perilaku dari penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga
berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak,
penyesuaian diri.
Berikut ini di sajikan kemampuan Dasar
Guru Khusus S1, Kependidikan :
a. Menguasai bahan
b.Mengelola program belajar-mengajar
c. Mengelola kelas
d.
Penggunaan
media/sumber
Tujuan belajar
menurut kelompok kami adalah untuk perubahan tingkah laku
dan perbuatan pada individu-individu yang belajar. Tujuan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi perubahan
tingkah laku dari individu setelah individu tersebut melaksanakan proses
belajar. Melalui belajar diharapkan dapat terjadi perubahan (peningkatan) bukan
hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek lainnya. Perubahan itu dapat dinyatakan
sebagai suatu kecakapan keterampilan, kebiasaan, sikap, pengertian, sebagai
pengetahuan atau penerimaan dan penghargaan.
B.
Saran
Bagi calon
guru hendaknya mampu memahami dan menerapakan
konsep dasar belajar dan pembelajaran serta tujuan dari belajar dan
pembelajaran sehingga peserta didik dapat belajar dalam kondisi pembelajaran
yang efektif.
Demikian makalah yang
kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Apabila ada saran dan kritik
yang ingin di sampaikan, Silahkan sampaikan kepada kami.Apabila ada terdapat
kesalahan mohon dapat memaafkan dan memakluminya, karena kami adalah hamba
Allah yang tak luput dari salah khilaf, Alfa dan lupa.
Wabillah Taufik Walhidayah
Wabillah Taufik Walhidayah
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
DAFTAR PUSTAKA
Dimyati, Dr, Mudjiono, Drs (2009). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta.
Rineka Cipta.
Ratumanan, Tanwey, Gerson, Drs., M.Pd. (2002). Belajar
dan Pembelajaran. Surabaya. Unesa University Press.
Sagala, Syaiful, DR.,H.,M.Pd. (2008). Konsep dan
Makna Pembelajaran. Jakarta. Alfabeta Bandung.
MAKALAH TEORI TINDAK BAHASA DARI SUDUT PEMBICARA
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Fungsi bahasa adalah
komunikasi atau menyampaikan pesan atau makna dari pembicara kepada lawan
bicara.
Tindak tutur (speech art) merupakan unsur pragmatik yang
melibatkan pembicara, pendengar atau
penulis pembaca serta yang dibicarakan. Dalam
penerapannya, tindak tutur digunakan oleh beberapa disiplin ilmu.
Seorang kritikus sastra mempertimbangkan
teori tindak tutur untuk menjelaskan teks yang halus (sulit) atau untuk
memahami alam genre (jenis) sastra, para antropolog akan berkepentingan dengan
teori tindak tutur ini dapat mempertimbangkan mantra magis dan ritual, para
filsuf melihat juga adanya aplikasi potensial diantara berbagai hal, misalnya
status pernyataan etis, sedangkan linguis (ahli bahasa) melihat gagasan teori
tindak tutur sebagai teori yang dapat
diterapkan pada berbagai masalah di dalam kalimat (sintaksis), semantik,
pembelajar bahasa kedua, dan yang lainnya. Dalam linguistik, pragmatik tindak tutur tetap merupakan
praduga dengan implikatur khusus. (Setiawan, 2005 : 16)
Di Makalah ini saya akan membahas tentang Teori
Tindak Bahasa dari Sudut Pembicaraan.
Untuk itu saya membuat makalah
ini berjudul “Teori Tindak Bahasa dari Sudut Pembicaraan” agar kita dapat
mengetahui teori tidak bahasa dari sudut pembicaraan tersebut.
- Rumusan Masalah
Didalam makalah ini, penulis
merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud tindak bahasa dari sudut pembicara?
2.
Apa aturan tindak bahasa dari sudut pandang
pembicara?
- Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di dalam makalah ini maka,
penulis makalah memiliki tujuan :
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud tindak bahasa
dari sudut pembicara.
2. Untuk mengetahui aturan tindak bahasa dari sudut pandang pembicara.
- Manfaat
Manfaat dari makalah ini, yaitu :
1. Mengetahui apa yang dimaksud tindak bahasa
dari sudut pembicara.
2. Mengetahui aturan tindak bahasa dari sudut pandang pembicara.
BAB II
PEMBAHASAN
- Tindak Bahasa dari
Sudut Pembicara
1.
Definisi Tindak Bahasa
Menurut
Setiawan Tindak bahasa (speech act) merupakan unsur pragmatik yang melibatkan pembicara,
pendengar atau penulis pembaca serta yang dibicarakan. Dalam penerapannya
tindak bahasa digunakan oleh beberapa
disiplin ilmu. Seorang kritikus sastra mempertimbangkan teori tindak tutur
untuk menjelaskan teks yang halus (sulit) atau untuk memahami alam genre
(jenis) sastra, para antropolog akan berkepentingan dengan teori tindak bahasa ini dapat
mempertimbangkan mantra magis dan ritual, para filosof melihat juga adanya
aplikasi potensial diantara berbagai hal, status pernyataan etis, sedangkan
linguis (ahli bahasa) melihat gagasan teori tindak bahasasebagai teori yang dapat diterapkan pada berbagai masalah
di dalam kalimat (sintaksis), semantik, pemelajar bahasa kedua, dan yang lainnya. Di dalam
linguistik pragmatik tindak tutur tetap merupakan
praduga dengan implikatur khusus. (Setiawan, 2005 : 16)
Menurut
Austin (1962), ujaran/kalimat yang bentuk formalnya adalah pernyataan, biasanya
memberi informasi, tetapi ada juga yang berfungsi lain, yakni yang “melakukan
suatu tindakan bahasa”. Kita membedakan dua fungsi yang diungkapkan oleh kalimat pernyataan.
Kalimat
komunikatif terbagi atas dua kategori yaitu kalimat penyata
atau konstatif dan kalimat pelaku
atau perlakuan atau performatif :
1.
Penyata
(konstatif) yang memberikan informasi mengenai suatu fakta yang dapat benar
atau tidak benar, dan
2.
Pelaku
atau perlakuan (performatif) yang melakukan suatu tindakan sambil mengucapkan
suatu bentuk bahasa.
1.
Kalimat
pelaku atau perlakuan (Performatif).
Makna dari
kalimat perlakuan adalah mengungkapkan (pelafalan)
kalimat itu. Umpamanya, kalau kita mengambil kalimat :
a.
Saya berjanji datang besok
pagi.
Makna kalimat itu adalah “janji yang diucapkan itu
b.
Saya menyatakan seminar ini
dibuka.
Maka ucapannya atau perlakuannya itulah makna kalimat itu,
yakni pengucapannya itulah tanda bahwa keadaan ”seminar dibuka” itu
menjadi kenyataan.
Kalimat perlakuan seperti diatas
relatif tidak begitu banyak jumlahnya dalam suatu bahasa, yang jauh lebih
banyak adalah kalimat penyata. Austin (1962) mengatakan bahwa makna juga
disebut nilai kalimat. itu adalah tindakan
membuat janji itu. Jadi,
“mengucapkan kalimat itu adalah
perlakuan berjanji, dan kalimat itu disebut kalimat perlakuan.
2. Kalimat penyata (konstatif) seperti :
a.
Dia pergi ke Bali.
b. Sudah pernahkah anda ke Bali?
c. pergilah ke bali.
- Aturan Tindak Bahasa
dari Sudut Pandang Pembicara
Adapun aturan tindak bahasa dari sudut pandang
pembicara, yakni sebagai berikut :
1. Harus ada urutan peristiwa yang dianggap
baku.
Peristiwa yang dianggap baku
disini adalah bisa dilihat dari sudut pembicaraan, ada tiga jenis keterampilan berbicara tersebut ditinjau
dari segi formal,semi formal dan non formal.
a. Pembicara Formal (Bahasa dan
Situasi) :
Tempat penggunaan bahasa formal digunakan di :
1).
Sekolah: Sekolah
Umum,Kursus,Latihsan kerja.
2).
Kantor.
3).
Gedung (yang dugunakan untuk
Pertemuan Ilmiah atau Formal,Penataran,Peresmian).
Sedang jenis formal yang menggunakan bahasa formal adalah :
1).
Pidato Formal (Resmi).
2).
Presentasi:Ilmiah,Pemasaran,Sidang
Ujian.
3).
Peresmian.
4).
Pelantikan.
5).
Penataran.
b. Pembicaraan Semi Formal
Jenis kegiatan yang termasuk semi formal adalah :
1).
Wawancara.
2).
Ceramah.
3).
Pidato: Pidato semi formal
(biasa),seperti: kata sambutan dalam perayaan.
4).
Perkawinan,ulang tahun.
5).
Reuni.
c. Pembicaraan Non-formal
Percakapan sehari-hari di lingkungan anak-anak,remaja,pemuda dan
orang tua dengan bahasa dan situasi santai :
1).
Percakapan sehari-hari di
lingkungan keluarga.
2).
Percakapan sehari-hari di
lingkungan masyarakat (yang digunakan misalnya: bahasa gaul.
2. Ucapan itu harus dilakukan oleh orang
tertentu yang ditunjuk dan berwenang dalam situasi tertentu yang sifatnya
resmi.
3.
Semua orang dalam tempat atau
ruangan itu harus ikut ambil bagian, dan suasana tidak di benarkan teralu
santai.
4.
Prosedur itu harus diikuti
secara benar dan lengkap. tidak ada bagian yang dihilangkan ataupun di
tambahakan.
Austin merumuskan tindak bahasa dari sudut pandang
pembicara yang tidak berkaitan/berkenaan dengan 4 syarat diatas menjadi 3,
yaitu:
1.
Tindak Bahasa Lokusi yakni
mengatakan sesuatu dalam arti berkata.
Contoh :
a.
Andi belajar membaca.
Kelima
kalimat di atas dituturkan oleh penuturnya semata-mata untuk menginformasikan
sesuatu tanpa ada tendensi untuk melakukan sesuatu, apalagi untuk mempengaruhi
lawan tuturnya.
2. Tindak Bahasa Ilokusi yakni tindak bahasa yang diidentifikasi dengan
kalimat pelaku
yang eksplisit.
Kalimat ekplisit adalah makna absolut yang langsung
diacu oleh bahasa. Tindakan secara gambling, tegas, terus terang, tidak
berbelit-belit (sehingga orang dapat menangkap maksudnya dengan mudah dan tidak
mempunyai gambaran yang kabur atau salah. Konsep makna ini bersifat denotatif
(sebenarnya) sebagai representasi dari bahasa kognitif.
Sedangkan makna implisit adalah makna
universal yang disembunyikan oleh bahasa. Konsep makna ini bersifat konotatif
(kias) sebagai representasi dari bahasa emotif. Makna eksplisit mengacu pada
informasi, sedangkan makna implisit mengacu pada emosi.
Contoh :
a.
Andi berjanji ingin belajar
membaca.
Analisisnya yaitu kalimat tersebut diucapkan oleh
orang yang ingin belajar membaca maka Ilokusinya yaitu orang tersebut berjanji
kepada dirinya sendiri ingin belajar membaca.
3.
Tindak Bahasa Perlokusi yakni
tindak bahasa yang dilakukan sebagai akibat atau efek dari ucapan orang lain.
Contoh :
a.
Andi dapat membaca
Analisisnya yaitu dari segi Ilokusi, orang tersebut
belajar membaca, Perlokusinya akibat anak tersebut belajar membaca, anak
tersebut dapat membaca yang baik dan benar.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Menurut Austin
(1962), ujaran/kalimat yang bentuk formalnya adalah pernyataan, biasanya
memberi informasi, tetapi ada juga yang berfungsi lain, yakni yang “melakukan
suatu tindakan bahasa”. Kita membedakan dua fungsi yang diungkapkan oleh kalimat pernyataan.
4.
Penyata
(constatives) yang memberikan informasi mengenai suatu fakta yang dapat benar
atau tidak benar, dan
5.
Pelaku
atau perlakuan (performatives) yang melakukan suatu tindakan sambil mengucapkan
suatu bentuk bahasa.
Adapun aturan tindak bahasa dari sudut pandang
pembicara, yakni sebagai berikut :
1. Harus ada urutan peristiwa yang dianggap
baku.
2. Ucapan itu harus dilakukan oleh orang
tertentu yang ditunjuk dan berwenang dalam situasi tertentu yang sifatnya
resmi.
3.
Semua orang dalam tempat atau
ruangan itu harus ikut ambil bagian, dan suasana tidak di benarkan kalu santai.
4.
Prosedur itu harus diikuti
secara benar dan lengkap; tidak ada bagian yang dihilangkan ataupun di
tambahakan.
Austin merumuskan tindak bahasa dari sudut pandang
pembicara yang tidak berkaitan/berkenaan dengan 4 syarat diatas menjadi 3,
yaitu:
1.
Tindak Bahasa Lokusi yakni
mengatakan sesuatu dalam arti berkata.
2.
Tindak Bahasa Ilokusi yakni
tindak bahasa yang diidentifikasi dengan kalimat pelaku yang eksplisit.
3.
Tindak Bahasa Perlokusi yakni
tindak bahasa yang dilakukan sebagai akibat atau efek dari ucapan orang lain.
B.
Saran
Demikian makalah yang kami
buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Apabila ada saran dan kritik yang
ingin di sampaikan, Silahkan sampaikan kepada kami.Apabila ada terdapat kesalahan
mohon dapat memaafkan dan memakluminya, karena kami adalah hamba Allah yang tak
luput dari salah khilaf, Alfa dan lupa.
Wabillah Taufik Walhidayah
Wabillah Taufik Walhidayah
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer Abdul. Psikolinguistik; Kajian Teoritik.
Jakarta : 2009 Rineka Cipta.
Makalah Keterampilan Menyimak
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang berjudul “Hakikat Belajar dan Pembelajaran ” dengan lancar.
Dalam pembuatan makalah ini, penulis
mendapat bantuan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : Dosen pengampu kami Noermanzah, M.Pd. dan teman-teman yang telah memberikan kesempatan dan
memberi fasilitas sehingga makalah ini dapat selesai dengan lancar. sehingga
pembuatan makalah ini dapat terselesaikan. Semua pihak yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu yang membantu pembuatan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini bisa
bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya, penulis
menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna untuk itu
penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan kearah
kesempurnaan. Akhir kata penulis sampaikan terimakasih.
Lubuklinggau, Oktober 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR Hlm.
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang ……………………………………………….. 1
B.
Rumusan Masalah…………………………………………..... 1
C.
Tujuan ………..……………….………………………………. 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
Hakekat Menyimak………………..…………………………. 2
B.
Proses Menyimak………………………………….…….….... 2
C.
Ragam Menyimak……………………….…………………..... 4
BAB III PENUTUP
A.
Simpulan……………………………………………………….. 7
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Menyimak
adalah suatu proses kegiatan menyimak lambang-lambang lisan dengan penuh
perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interprestasi untuk memperoleh
informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah
disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
Di
dalam menyimak ada beberapa tahapan tahapan dan ragam menyimak yang akan
dibahas dalam makalah ini. Di dalam Makalah ini kelompok kami akan membahas
tentang Hakikat menyimak, Proses Menyimak dan Ragam Menyimak.
B.
Rumusan
Masalah
a.
Apa hakikat menyimak?
b.
Apa saja proses menyimak?
c.
Apa saja ragam menyimak?
C.
Tujuan
Masalah
1.
Memberikan pemahaman tentang pengertian
hakikat menyimak.
2.
Memberikan pemahaman tentang apa saja proses
menyimak.
3.
Memberikan pemahaman tentang apa saja
ragam menyimak.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat
Menyimak
Menyimak
adalah suatu proses kegiatan menyimak lambang-lambang lisan dengan penuh
perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interprestasi untuk memperoleh
informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah
disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
Dengan
menyimak seseorang dapat menyerap informasi atau pengetahuan yang disimaknya.
Menyimak juga mempelancar keterampilan berbicara dan menulis. Semakin baik daya
simak seseorang maka akan semakin baik pula daya serap informasi atau
pengetahuan yang disimaknya.
Apakah
yang dimaksud dengan teks informatif? Informasi itu, artinya berita, kabar,
penjelas/pemberitahuan tentang suatu hal/objek tertentu. Sumber atau pemberi
informasi disebut informan yaitu orang yang memberikan informasi. Dalam konteks
ini yang dimaksud dengan teks informatif ialah teks yang memuat berita, kabar,
panjelas atau pemberitahuan tentang suatu hal.
B.
Proses
Menyimak
1. Proses
mendengarkan ( heaarning ) yaitu kita mendengarkan segala sesuatu dari
pembicara dan memprosesnya untuk memperoleh sebuah informasi yang baru maupun
yang sudah kita ketahui.
2. Proses
memahami ( understanding ) setelah kita mendengarkan pembicaran pembicara, maka
kita akan merasa ingin mengetahui, mengerti, dan memahami apa isi dari
informasi yang kita dengarkan
3. Proses
menginterprestasi ( interpreting ) pada tahap ini kita merasa tidak puas dengan
apa yang disampaikan oleh pembicara, maka kita berkeinginan untuk
menginterprestasikannya dalam pendapat kita yang kita anggap dapat melengkapai
informasi dari apa yang kita dapat
4. Proses
mengevaluasi ( evaluating ) pada tahap ini kita melakukan evaluasi atau
penilaian terhadap pembicara apakah baik atau buruk dan kita bisa
menginterprestasikan kelemahan dan keunggulan pembicara.
5. Proses
menanggapi ( responding ) tahap ini adalah tahap terakhir dalam menyimak,
dimana penyimak menerima dan menyerap hasil simakan kemudian memberikan respond
tanggapan terhadap apa yang disimak, bisa berupa komentar, pertanyaan, dan
tanggapan yang lainnya.
Sembilan
tahap menyimak menurut Ruth G. Strickland:
1. Menyimak
secara sadar yang bersifat berkala
2. Menyimak
dengan selingan-selingan
3. Setengah
menyimak
4. Menyimak
pasif
5. Menyimak
sebentar-sebentar
6. Meyimak
asosiatif, mengingat pengalaman-pengalaman pribadi si penyimak, tidak
memberikan reaksi terhadap pesan yang disampaikan oleh si pembicara.
7. Menyimak
dengan reaksi berkala
8. Menyimak
secara saksama dan sungguh-sungguh
9. Menyimak
aktif, menyimak untuk mendapatkan pikiran serta pendapat si pembicara.
C.
Ragam
Menyimak
1. Menyimak
Intensif
Menyimak
Intensif merupakan kegiatan menyimak yang dilakukan dengan
sungguh-sungguh,konsentrasi tinggi untuk menangkap makna yang dikehendaki.
Misalnya menyimak di lembaga pendidikan formal.
a. Menyimak Kritis
Menyimak kritis
adalah kegiatan menyimak yang berupa untuk mencari kesalahan atau kekeliruan
bahkan hal-hal yang baik dan benar dari ujaran pembicara, dengan alasan yang
kuat dan dapat diterima oleh akal sehat. Pada umumnya menyimak kritis lebih
cendrung meneliti letak kekurangan, kekeliruan, ketidak telitian yang terdapat
dalam ujaran atau pembicaraaan seseorang.
b. Menyimak Konsentratif
Menyimak konsentratif sering disebut a study-type
listening atau menyimak yang merupakan kegiatan sejenis telaah.
c. Menyimak Kreatif
Menyimak kreatif adalah kegiatan menyimak yang dapat
mengakibatkan kesenangan rekontruksi imajinatif para penyimak terhadap bunyi,
penglihatan, gerakan, serta perasaan kinestetik terhadap apa-apa yang
disimaknya.
d. Menyimak Eksplorasif
Menyimak eksploratif adalah kegiatann menyimak intensif
dengan tujuan menyelidiki sesuatu lebih terarah.
e. Menyimak Interogatif
Menyimak interogatif adalah sejenis kegiatan menyimak
intensif yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi, pemusatan
perhatian dan pemilihan butir-butir dari ujaran sang pembicara, sebab sang
penyimak akan mengajukan pertanyaan sebanyak mungkin yang mencakup apa,
siapa, mengapa, di mana, ke mana, untuk apa, benarkah, dan sebagainya.
2. Menyimak
Ekstensif
Menyimak
Ekstensif merupakan proses menyimak yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari
yang dilakukan oleh masyarakat secara umum (tidak formal).
a. Menyimak Sosial
Menyimak sosial biasanya berlangsung dalam
situasi-situasi sosial tempat orang-orang mengobrol atau bercengkrama mengenai
hal-hal yang menarik, sehingga orang yang hadir saling mendengarkan dan memberi
respon yang wajar terhadap apa yang dikatakan rekannya.
b. Menyimak Sekunder
Menyimak sekunder adalah sejenis kegiatan menyimak secara
kebetulan. Seperti contoh berikut,menyimak musik yang mengiringi ritme-ritme,
tarian-tarian rakyat disekolah dan pada acara-acara radio yang terdengar
sayup-sayup sementara kita sedang menulis surat pada seorang teman dirumah.
c. Menyimak Estetik
Menyimak estetik adalah kegiatan menyimak kebetulan dan
termasuk kedalam menyimak ekstensif, mancakup: menyimak musik, puisi, pembacaan
bersama atau drama radio dan rekaman-rekaman serta menikmati cerita teka-teki
dan lakon-lakon yang dibicarakan atau diceritakan oleh guru, siswa, dan ataupun
aktor.
d. Menyimak Pasif
Menyimak pasif adalah penyerapan suatu ujaran tanpa upaya
sadar dan biasanya menandai kita pada saat belajar kurang teliti, tergesa-gesa,
menghafal luar kepala, berlatih santai serta menguasai suatu bahasa.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Menyimak
adalah suatu proses kegiatan menyimak lambang-lambang lisan dengan penuh
perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interprestasi untuk memperoleh
informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah
disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
2. Tahap
Menyimak itu ada Tahap
mendengarkan, Tahap memahami, Tahap menginterprestasi, Tahap mengevaluasi,
Tahap menanggapi.
3. Ragam
menyimak iu ada Menyimak Intensif dan Menyimak ekstensif
DAFTAR PUSTAKA
Tarigan, Henry Guntur. 1983. Menyimak Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa